MATEMATIKA
LANJUT (TL-5103)
PENENTUAN KONSENTRASI
SUMBER PENCEMAR KONSENTRASI DIDANAU DENGAN
MODEL DIFUSI MENGGUNAKAN
METODE
ELLIMINASI GAUSS
Disusun
oleh:
Agung
Waskito 25314307

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
SEKOLAH
PASCASARJANA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015
Latar Belakang
Difusi
merupakan salah satu fenomena yang paling mendasar di alam, merupakan peristiwa
di mana terjadi tranfer materi melalui materi lain. Transfer materi ini
berlangsung karena atom atau partikel selalu bergerak oleh agitasi thermal. Studi pada proses difusi di sungai dan danau yang
banyak digunakan oleh hydrodynamicists, hidrologi dan ilmuwan lingkungan yang
terlibat dalam studi masalah polusi air. Waktu perjalanan dari polutan di
sungai atau danau, tingkat di mana menyebar polutan, penurunan konsentrasi
puncak dan pola konsentrasi yang dihasilkan dari polutan adalah variabel
penting yang harus dipahami dengan baik. Walaupun sesungguhnya
gerak tersebut merupakan gerak acak tanpa arah tertentu, namun secara
keseluruhan ada arah neto dimana entropi akan meningkat. Difusi merupakan
proses irreversible.
Air
merupakan salah satu komponen yang sangat berperan bagi kehidupan sehari hari,
dengan demikian bahwa dapat dipastikan air merupakan salah satu komponen yang
paling penting dalam proses kehidupan. Ciri-ciri air yang mengalami pencemaran
sangat bervariasi tergantung dari jenis air dan polutannya, biasanya berasal
dari padatan, bahan buangan yang membutuhkan oksigen, mikroorgenisme, komponen
organik sintetik, nutrien tanaman, minyak, senyawa anorganik, dan bahan
radioaktif. (Ferdiaz, 1992)
Terdapat banyak tipe gerak angkutan materi air didalam
badan-badan air alami. Energi angin dan gaya berat memberi gerakan pada air
yang berujung pada proses transport massa. Konteks gerakan didalam
sistem dapat dibagi menjadi dua kategori umum, yaitu adveksi dan difusi.
Adveksi dihasilkan oleh aliran yang bersifat unidirectional dan tidak
mengubah identitas dari substansi yang sedang mengalir atau terpindahkan.
Adanya penambahan oksigen melalui proses fotosintetis
dan pertukaran gas antara air dan udara menyebabkan kadar oksigen terlarut
relatif lebih tinggi di lapisan permukaan. Dengan bertambahnya kedalaman,
proses fotosintesis akan semakin kurang efektif, maka akan terjadi penurunan
kadar oksigen terlarut sampai pada suatu kedalaman yang disebut “Compensation
Depth”, yaitu kedalaman tempat oksigen yang dihasilkan melalui proses
fotosintetis sebanding dengan oksigen yang dibutuhkan untuk respirasi
(Sverdrup, et al., 1942). Kadar oksigen terlarut yang turun drastis
dalam suatu perairan menunjukkan terjadinya penguraian zat-zat organik dan
menghasilkan gas berbau busuk dan
membahayakan organisme.
Dari beberapa parameter polutan yang ada
tersebut, semuanya memiliki kemungkinan untuk melakukan difusi dalam
menyeimbangkan besaran konsentrasi dari suatu titik ke titik lain. Hal ini
menyebabkan kontaminan yang terlarut mempunyai kecenderungan untuk menyamakan
konsentrasi dalam sistem, yaitu bergerak dari konsentrasi yang tinggi menuju
daerah dengan konsentrasi yang lebih rendah. Difusi akan terus terjadi sampai
gradien konsentrasi menjadi nol atau tidak ada perbedaan konsentrasi di dalam
sistem, walaupun tidak ada pergerakan air atau fluida dimana kontaminan
tersebut berada. Massa dari kontaminan atau solute
yang terdifusi akan sebanding dengan gradien konsentrasi (Notodarmojo, 2005).
Menurut FDI (2004)
Permasalahan utama danau-danau di seluruh dunia adalah erosi dan sedimentasi
danau akibat dari penebangan hutan di hulu serta perubahan alih fungsi lahan di
sekitar danau. Sedimentasi berakibat pada pendangkalan danau yang menurunkan
kapasitas cadangan air. Permasalahan lainnya adalah menurunnya kualitas air
akibat dari kandungan hara yang tinggi pada suatu perairan danau. Kandungan
hara yang berlebih mendorong pertumbuhan ganggang yang sangat pesat sehingga
mengganggu kestabilan ekosistem danau. Dari permasalahan inilah dapat dicermati
beberapa parameter yang berhubungan erat dari permasalah tersebut.
Salah satu parameter pencemaran suatu
perairan adalah oksigen terlarut. Oksigen dimanfaatkan oleh organisme perairan
untuk proses respirasi dan menguraikan zat organik menjadi zat an-organik oleh
mikro organisme. Oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi udara dan hasil
fotosintesis organisme berklorofil yang hidup dalam suatu perairan dan
dibutuhkan oleh organisme untuk mengoksidasi zat hara yang masuk ke dalam
tubuhnya Kadar oksigen terlarut yang
turun drastis dalam suatu perairan menunjukkan terjadinya penguraian zat-zat
organik dan menghasilkan gas berbau busuk dan membahayakan organisme
(Simanjutak, 2007).
Tujuan
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah untuk mencari nilai konsentrasi sumber
pencemar di danau dengan metode eliminasi
gauss
II. TEORI DASAR
Penentuan nilai konsentrasi dissolved oxygen, total dissolved oxygen, ammonia, nitrat, dan
fosfat dengan berdasarkan data fluks massa yang didapat dengan menggunakan
persamaan rumus Hukum Fick, dijabarkan sebagai berikut:
J = - D
(Pers 1)
Dimana J merupakan fluks massa dari solute atau kontaminan, D adalah
koefesien difusi, yang dalam hal ini nilainya diasumsikan sama sebesar 10-4.
adalah konsentrasi kontaminan dan
adalah jarak konsentrasi yang dalam hal ini
merupakan perbedaan kedalaman danau. Menurut literatur, pada Persamaan 1 Hukum Fick
pertama menyatakan bahwa mass flux akibat difusi berbanding lurus atau
proporsional terhadap gradient konsentrasi, yaitu turunan konsentrasi terhadap
jarak. Tanda negatif pada suku kanan persamaan 1 menunjukan bahwa gerakan
kontaminan adalah dari lokasi atau titik dengan konsentrasi yang lebih tinggi
menuju ke lokasi yang lebih rendah. Maka dengan menggunakan Hukum Fick dan data
fluks massa dari penelitian Banadda (2011) dapat dihitung besaran konsentrasi
dari dissolved oxygen.
Sistem
Persamaan Linier
Di dalam matematika, system persamaan linier adalah
kumpulan persamaan-persamaan linier yang memiliki variabel-variabel yang
sama. Bentuk umum dari sistem persamaan linier dengan n peubah dinyatakan
sebagai berikut:
Dengan mengunakan perkalian matriks, kita
dapat menulis persamaan di atas sebagai persamaan matriks
Ax
= b
Yang
dalam hal ini,
Yaitu:
Setelah menemukan persamaan matrik dengan
persamaan linier kemudian mengubah persamaan linear tersebut ke dalam matriks
teraugmentasi dan mengoperasikannya.. Metode ini berangkat dari kenyataan bahwa
bila matriks A berbentuk segitiga atas (menggunakan Operasi Baris Elementer)
seperti system persamaan berikut ini:

Setelah matrik yang diatas dijadikan nol
maka dilanjutkan dalam menentukan x, x1, x2,x3 dengan cara
Maka solusinya dapat dihitung dengan teknik penyulingan mundur (backward
substitution):

Kondisi
sangat penting. Sebab bila
,
persamaan diatas menjerjakan pembagian dengan nol. Apabila kondisi tersebut
tidak dipenuhi, maka SPL tidak mempunyai jawaban.
III. PEMBAHASAN
Data
yang terdapat dalam studi ini adalah data yang terdapat pada jurnal Modeling Diffusive
Flux of Non Point Source Pollutans in Lake
Victoria: A Comparison Study of Fick’s Law and
The
Fokker-Planck Law.:
Koefesien Difusi, D = 10-4
m2/detik
δz
=
0,5
dan nilai J sesuai dengan
hasil grafik pada jurnal.
Rumus yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan Hukum Fick’s dalam menghitung Difusi Polutan.
Adapun rumus tersebut dapat dilihat di bawah ini:
J
= - D 
Keterangan: J = Flux Density
D = Koefesien Difusi
Nilai negatif (-) pada
D menandakan bahwa gerakan kontaminan berasal dari konsentrasi yang lebih
tinggi ke lokasi yang lebih rendah
Perhitungan Dissolved Oxygen
Contoh Perhitungan Nilai
Dissolved Oxygen (DO) pada terpadat jurnal
Pada jarak horizontal 10
meter dengan nilai J sebesar 126 x 105 mgL-1m-2s-1
dan dengan kedalaman pada jarak 0,5 meter,
J = - D 
=
0,5 m
=
6,3 x 1010 mgL-1m-3
Sehingga
dengan menggunaan rumus perhitungan ini, maka didapatkan hasil DO menurut kedalaman
dan point jarak horizontal yang dijabarkan pada tabel di bawah ini.
|
Point
|
J
|
D
|
dz
|
dC
|
|
10 m
|
126 x 105
|
10-4
|
0.5
|
6,3 x 1010
|
|
20 m
|
128 x 105
|
10-4
|
0.5
|
6,4 x 1010
|
|
30 m
|
136 x 105
|
10-4
|
0.5
|
6,8 x 1010
|
|
40 m
|
143 x 105
|
10-4
|
0.5
|
7,1 x 1010
|
|
50 m
|
145 x 105
|
10-4
|
0.5
|
7,2 x 1010
|

Nilai DO pada Danau
menurut Hukum Fick’s berdasarkan grafik jurnal
Maka
setelah data data yang ada dalam jurnal itu dihitung didapatkan data data yang
siap dimasukkan dalam eliminasi gauss seperti table dibawah ini
|
Distance (m)
|
DO (0.5)
|
|
10
|
6.3
|
|
20
|
6.4
|
|
30
|
6.8
|
|
40
|
7.1
|
|
50
|
7.2
|
Kemudian
dimasukkan kedalam persamaan linier sehingga didapatkan anggka angka seprti
dibawah ini
|
1
|
10
|
100
|
1000
|
a0
|
6.3
|
|
1
|
20
|
400
|
8000
|
a1
|
6.4
|
|
1
|
40
|
1600
|
64000
|
a2
|
7.1
|
|
1
|
50
|
2500
|
125000
|
a3
|
7.2
|
Selanjutnya
kita akan menolkan baris pertama sehingga didapatkan angka angka seperti
dibawah ini
|
1
|
10
|
100
|
1000
|
a0
|
6.3
|
|
0
|
10
|
300
|
7000
|
a1
|
0.1
|
|
0
|
20
|
1200
|
56000
|
a2
|
0.7
|
|
0
|
10
|
900
|
61000
|
a3
|
0.1
|
Kemudian
baris kedua di nol-kan sama seperti langkah diatas
|
1
|
10
|
100
|
1000
|
a0
|
6.3
|
|
0
|
10
|
300
|
7000
|
a1
|
0.1
|
|
0
|
0
|
600
|
42000
|
a2
|
0.5
|
|
0
|
0
|
300
|
33000
|
a3
|
-0.25
|
Dan
terakhir kita harus menol-kan baris ketiga dimana setelah menolkan baris ketiga
maka
|
1
|
10
|
100
|
1000
|
a0
|
6.3
|
|
0
|
10
|
300
|
7000
|
a1
|
0.1
|
|
0
|
0
|
600
|
42000
|
a2
|
0.5
|
|
0
|
0
|
0
|
12000
|
a3
|
-0.5
|
Setelah matrik yang diatas dijadikan nol
maka dilanjutkan dalam menentukan x, x1, x2,x3 dengan mencari cara untuk
mendapatkan nilai dari variable tersebut, maka solusinya dapat
dihitung dengan teknik penyulingan mundur (backward substitution)
maka didapatkan hasil perhitungan:




Dan didapatkan hasil sepertti pada table
dibawah ini
|
X
|
6.7
|
|
X1
|
-0.07333
|
|
X2
|
0.00375
|
|
X3
|
-4.2E-05
|
Sehingga setelah kita dapatkan
persamaan X+X1+X2+X3=0
kita dapat dengan mudah menentukan sumber percemar di danau tersebut. Sebagai
contoh kita menentukan sumber pencemar pada jarak 45 meter dan di dapatkan
perhitungan sesuai persamaan di atas maka
X+(X.45)+(X.45.45)+(X.45.45.45)
= 7.196875
IV. KESIMPULAN
Eliminasi
Gauss adalah suatu cara mengoperasikan nilai-nilai di dalam matriks
sehingga menjadi matriks yang lebih sederhana. Metode Eliminasi Gauss
adalah salah satu cara yang paling awal dan banyak digunakan dalam penyelesaian
sistem persamaan linier, Pada Eleminasi Gauss, persamaan dasar
diubah menjadi matriks triangulasi dengan me-nol-kan unsur matriks segitiga
bawah. Eleminasi Gauss terdiri dari dua langkah :Forward Elimination of
Unknowns dan Back Substitution. Metode
eliminasi
gauss ini dapat digunakan sebagai
dasar penentuan sumber pencemar sehingga dapat memudahkan para
peneliti dalam pendeteksian sumber percemar sehingga dapat bermanfaat dalam
dunia ilmu pengetahuan
V. REFERENSI
(1).
Banadda, N., Ayaa, F., Wali, U.G., Kimwaga, R.j., Mashauri, D.A. 2011. Modeling
Diffusive
Flux of Non Point Source Pollutans in
Lake Victoria: A Comparison Study of Fick’s Law and
The Fokker-Planck Law. The Open
Environmental Journal. Vol 4, 105-111.
Di akses tanggal 23 april 2015
Di akses tanggal 23 april 2015



Tidak ada komentar:
Posting Komentar